Keterangan: Foto diambil dalam Agenda Silaturahmi dan Diskusi pada Tanggal 5 Agustus 2024 Bertempat di Santape (Saung Tempat Perenungan) bersama Musisi Hendra Pranova adalah orang yang memberikan ide arasemen Hymne dan Mars Perkumpulan Advokat Indonesia (PERADIN).
Pendidikan menjadi alat sebagai transfer amanah yang bersumber dari Allah, ilmu pengetahuan yang didapatkan melalui proses pendidikan yaitu dengan cara belajar, penelitian dan adanya manifestasi dalam lingkungan sosial masyarakat. Pendidikan pada gilirannya nanti akan memberikan saham untuk ikut memecahkan permasalahan sosial kontemporer, pendidikan juga akan menumbuhkan konsep-konsep kemanusiaan untuk menuju situasi saling pengertian diantara sesama manusia, pendidikan tidak berada dalam ruang hampa.
Pendidikan berada dalam ruang konteks artinya pendidikan adalah wahana, sarana juga sekaligus alat mentransfer amanah dari orangtua kepada anak, dari guru kepada murid, dari dosen kepada mahasiswa, dari nenek moyang kepada cucunya yang bersumber dari Allah. Generasi harus dipersiapkan untuk menghadapi tantangan zaman yang dibekali keahlian pada bidangnya masing-masing, bidang ekonomi, sosial, hukum, politik dan sebagainya agar memiliki daya saing dengan bangsa lain. Bangsa kita akan selalu terjajah khususnya pada sektor ekonomi dan tekhnologi, bangsa Indonesia sebelumnya pernah mengalami penjajahan fisik yang cukup panjang dan sangat menderita.
Pada waktu bangsa Indonesia dijajah secara fisik, rakyat Indonesia dan para tokoh pejuang dari kalangan Ulama dan santrinya serta golongan Kebangsaan selalu mengedepankan persatuan dan kesatuan dalam melawan penjajah yang pada gilirannya bangsa Indonesia menjadi bangsa yang merdeka. Potret perjuangan rakyat Indonesia bersama para tokoh pejuangnya menjadi fakta sejarah yang bisa selalu menghidupkan semangat generasi bangsa Indonesia saat ini dan yang akan datang.
Jika para generasi hanya diberi ilmu pengetahuan tanpa dilatih, tanpa dikenalkan dengan diriNya ( ﻣﻦ ﻋﺮﻑ ﻧﻔﺴﻪ ﻓﻘﺪ ﻋﺮﻑ ﺭﺑﻪ ) maka akan terjadi istilah teoritis, omong doang (OMDO), no action talk only (NATO) atau iso ngujar ora iso ngelakoni (IJARKONI).
Jika para generasi hanya diberi pelatihan tanpa ilmu pengetahuan dan tidak dikenalkan dengan diriNya ( ﻣﻦ ﻋﺮﻑ ﻧﻔﺴﻪ ﻓﻘﺪ ﻋﺮﻑ ﺭﺑﻪ ) maka akan muncul arogan, akan mengedepankan ego, sehingga dari ego itu sendiri kadang-kadang mementingkan pribadi, kelompok, mengesampingkan kebersamaan.
Jika para generasi tidak diberi ilmu pengetahuan, lantas pelatihannya tinggi kemudian muncul “kerinduan terhadap sesuatu” tidak dibarengi ilmu pengetahuan, ini akan melahirkan langkah-langkah kontradiktif seperti satu contoh sebagai bahan analisis terjadinya mala petaka, prahara, kenapa “terjadi pengeboman”, ini dari mana sumbernya? sumbernya tidak lain adalah dari kelompok yang kerinduan mistisnya tinggi, ilmu pengetahuannya tidak ada.
Sebaliknya apabila para generasi hanya mengenal diriNya ( ﻣﻦ ﻋﺮﻑ ﻧﻔﺴﻪ ﻓﻘﺪ ﻋﺮﻑ ﺭﺑﻪ ) semata, tanpa ilmu pengetahuan dan pelatihan, ini juga bukan hal yang mustahil akan munculnya generasi yaitu dimana generasi tadi akan menjadi generasi yang “susut sebelum sesat”, kenapa demikian? ilmu pengetahuan berperan, latihan sangat penting, sehingga bisa jadi seseorang bisa muncul dengan daya dan upaya mengantarkan diri pribadi dengan cara tadi, mengenal diriNya tanpa dibarengi ilmu pengetahuan kemudian jadi imam dan diikuti oleh pengikutnya lalu membuat kebijakan. Kebijakan yang tidak berdasarkan kepada ilmu pengetahuan akhirnya merugikan hal layak, merugikan ajaran Islam. Satu contoh menganggap manusia najis, sehingga apabila dia shalat kemudian pulang bekasnya itu di cuci, di elap. Hal tersebut adalah kebijakan dari imam yang tadi melangkah dengan upaya mistisnya tinggi, ilmu pengetahuannya kosong.
Apabila memperhatikan langkah perjalanan para Aulia Illah Wali Songo dalam waktu yang relatif singkat bisa menyelesaikan masalah sosial, menyelesaikan masalah tanpa melahirkan masalah. Mengutip pesan almaghfurlah SM. Fuad Halimi Salim Pendiri Pondok Pesantren Lingkungan Hidup Al-Ihya Kaduronyok Pandeglang Banten bahwa ada tiga petikan dari perjalanan para Aulia Illah Wali Songo yaitu (1) Jihad: bersungguh-sungguh dengan cara mengedepankan fisik; (2) Ijtihad: bersungguh-sungguh dengan cara mengedepankan ilmu pengetahuan; (3) Mujahadah: bersungguh-sungguh dengan cara megedepankan qolbu. Tiga petikan diatas tidak bisa dipisahkan, bermuara didalam diri manusia. Almaghfurlah juga bertanya kepada dirinya sendiri, kalau saja saya ditanya tentang guru, siapakah guru yang akan saya pilih? maka saya akan mengatakan memilih seorang guru yang berlatar belakang jelas, berilmu pengetahuan, terlatih dan taqorrub kepada Allah (Disampaikannya pada sambutan Haflah Akhirussanah PAUD, MDTA, MTs, M.A, SMK di Pondok Pesantren Lingkungan Hidup Al-Ihya Kaduronyok Pada Tahun 2014).
Para generasi harus diberikan pelatihan, ilmu pengetahuan dan pengenalan diriNya adalah kunci untuk mencetak generasi bangsa sehingga pada gilirannya nanti melahirkan generasi yang mengikuti derap langkah para pendiri bangsa Indonesia. Semoga dunia pendidikan khususnya bangsa kita bisa melahirkan generasi yang beraktifitas di masyarakat secara orisinal, tidak tentatif, tidak coba-coba melainkan lahir dari tradisi yang dikordinasi dengan kualitas perkembangan zaman dan dengan ini perubahan sosial akan bergerak maju kearah yang lebih bagus, kegelinciran akan bisa diatasi, lompatan penyimpangan yang jauh didalam hidup dijamin tidak akan terjadi.
“Penulis redaksi adalah seorang murid almaghfurlah, 9 Desember 2025”