Pendahuluan
Pasang-surut peradaban yang berlangsung dalam sejarah umat manusia dan bangsa-bangsa di seluruh jagad bumi, sangat tergantung kepada nilai dan prinsip-prinsip yang diyakini dalam mengelola hidup dan kehidupan.
Tidak sedikit bangsa pernah besar dan jaya dalam sejarah tetapi kemudian runtuh dan hancur berkeping. Sebaliknya tidak sedikit bangsa pernah terpuruk dan hancur tetapi kemudian mampu bangkit meraih kejayaan serta menjadi pusat peradaban dan kekuatan dunia.
Tidak terkecuali Banten sebagai satu pemerintahan kerajaan yang terletak di ujung paling barat pulau Jawa, pernah meraih puncak kejayaan tetapi dalam rentang waktu perjalanannya pernah pula terpuruk akibat perpecahan dan perebutan kekuasaan.
Gambaran akan kejayaan dan keterpurukan pemerintahan Kerajaan Banten dapat dengan jelas diketahui dari berbagai buku sejarah maupun situs-situs sejarah yang tersebar di wilayah Propinsi Banten seperti sisa bangunan istanah, mesjid dan benteng yang terletak di Sorosan (Banten Lama).
Sejarah kejayaan suatu negara tidak terkecuali Banten di masa lalu tidak terlepas dari tokoh-tokoh yang berkarakter kuat dengan nilai dan prinsip-prinsip hidup yang kokoh, filosofis, ideologis dan paradigmatik serta memiliki ilmu pengetahuan luas yang berdiri di atas panji-panji religious dalam menyikapi persoalan-persoalan kehidupan. Beberapa tokoh-tokoh penting yang dapat dipandang berkarakter kuat sebagai peletak sejarah Banten di masa lalu di antaranya Maulana Hasanuddin[1], Maulana Muhammad Nasruddin, Sultan Abu al Mafkir Mahmud Abdul al Kadir, Sultan Abu al Ma’ali Ahmad, Sultan Abu al Fath Abdul al Fattah atau lebih dikenal dengan Sultan Ageng Tirtayasa yang namanya diabadikan pada pada kampus yang kita cintai[2].
Di samping itu, terdapat beberapa tokoh pendidik berpengaruh yang sukses membangun peradaban di Banten lewat pendidikan dan syiar Islam seperti Syeikh Nawawi Al-Bantani Al-Jawi, Syeikh Yusuf Al-Batani Al-Makasari dan KH. Wasid[3].
Di samping tokoh-tokoh yang mengantarkan kejayaan, terdapat pula tokoh-tokoh yang mengantarkan kepada keruntuhan dan kehancuran dengan tampilan karakter yang berbeda seperti Sultan Abu al Nasri Abdul al Qahar atau lebih dikenal dengan Sultan Haji, Sultan Abu al Fadhal Muhammad Yahya, Sultan Muhammad Syafiuddin, Sultan Muhammad Aqiluddin.
Ambisi, penghianatan, siasat muslihat, dan kemunafikan yang berlangsung sejak Sultan Haji merefleksikan lemah dan hancurnya karakter mengantar keruntuhan Banten[4].
Rangkaian cerita sejarah kebantenan yang kemudian direfleksi dalam gugus perjalanan negara kebangsaan Indonesia, sejak Proklamsi 17 Agustus 1945 hingga di alam reformasi saat ini, menunjukkan adanya dinamika pergeseran nilai dalam konstruksi karakter yang sama sebagaimana terjadi pada pradaban-peradaban sebelum Indonesia merdeka.
Keberhasilan para pendiri bangsa (the founding fathers) memproklamasikan NKRI 68 tahun silang merupakan satu bukti nyata kekuatan karakter yang dimiliki oleh generasi bangsa ini ketika itu. Para pendahulu kita, rela mengorbankan nyawa, darah, air mata dan seluruh harta kekayaan yang mereka miliki demi tegaknya kedaulatan, harkat dan martabat negara yang kita cintai.
Peristiwa-peristiwa heroik yang mengiringi setiap ikhtiar mencapai kemerdekaan Indonesia, merefleksikan kekuatan karakter bangsa yang begitu kokoh pada 68 tahun silang.
Sayang sekali karakter bangsa yang menjadi spirit perjuangan kemerdekaan telah jauh bergeser dan mengalami pengeroposan nilai di tangan generasi saat ini. Hal tersebut dapat dilihat dari krisis moral dan mental serta disorientasi visi hidup generasi yang ditandai oleh semakin melembaganya prilaku kolusi, korupsi dan nepotisme pada seluruh level kehidupan masyarakat, dari civil society hingga penyelenggara negara.
Pergeseran nilai dan dan hilangnya karakter generasi bangsa semakin diperkuat oleh munculnya berbagai penyakit-penyakit sosial yang tidak sedikit memicu pergesekan dan konflik yang memakan korban tidak sedikit baik moril maupun materil.
Otoritas-otoritas keagamaan sebagai salah satu sumber nilai pembentukan karakter bangsa mengalami krisis pelembagaan yang ditandai oleh lahirnya banyak aliran-aliran baru beserta tokoh-tokoh yang mengklaim diri sebagai pemimpin aliran dan menyatakan diri sebagai nabi. Tindakan terorisme, geng motor, premanisme, tauran pelajar dan mahasiswa, perang antar kampung serta berbagai tindakan kriminal seperti pencurian, perampokan, penipuan, pembunuhan, pemerkosaan, kumpul kebo, perselingkuhan, sogok-menyogok dan berbagai tindakan amoral lainnya merupakan manifestasi eksistensi akibat kegagalan menemukan jati diri dalam membentuk karakter generasi bangsa.
Citra berbudaya, jujur, sopan santun, toleran, peduli yang melekat kuat dalam tradisi masyarakat Indonesia ketimuran tercerabut dari akarnya dan hampir hilang tanpa bekas.
Puing-puing yang tersisah hanyalah wajah-wajah hedonis, oportunis, pragmatis yang terterjemahkan dalam prilaku bohong, munafiq, beringas, serakah, ambisius, iri hati dan dengki. Apabila perangai tersebut dibiarkan dibiarkan berkembang, maka cepat atau lambat kita berada dalam bayang-bayang kehancuran masa depan generasi bangsa.
Di tengah kebangkrutan identitas akibat kehilangan karakter (character lost), sebagai generasi bangsa kita dihadapkan pada tantangan besar yang dapat menjadi ancaman jika tidak mempersiapkan diri dengan baik.
Saat ini kita tengah berada dalam satu era yang disebut globalisasi. Suatu era keterbukaan yang menghadirkan peluang pada satu sisi dan tantangan pada sisi lainnya dalam spektrum yang lebih luas dan lebih besar.
Eksistensi globalisasi merupakan resultante atas kemajuan teknologi informasi, komunikasi dan transportasi mengantarkan penduduk di seluruh belahan dunia dapat terkoneksi, berkomunikasi dan tukar informasi tanpa terhalang oleh jarak dan waktu[5]. Sekat-sekat teritorial negara hampir tidak bermakna, bahkan menembus masuk ke dalam tembok-tembok ruang pribadi setiap individu.
Akses interaksi dan komunikasi yang demikian mudah mendorong semua aspek kehidupan warga suatu negara terlibat di dalamnya baik agama, politik, sosial, ekonomi dan budaya.
Hal-hal yang terjadi pada satu titik di belahan dunia dapat dengan mudah diketahui oleh umat manusia pada belahan dunia lainnya. Interaksi dan komunikasi lintas budaya dapat menghadirkan ornamen-ornamen baru dalam peradaban yang dapat bernilai positif maupun negatif.
Semuanya tergantung bagaimana identitas karakter dibangun sebagai saringan komunikasi antara peradaban sekaligus jiwa dan semangat yang dapat mengangkat sedimen-sedimen budaya lokal going nasional dan internasional.
Beberapa Hal Tentang Karakter dan Pembentukan Karakter
Dalam kehidupan sehari-hari, istilah karakter sering menjadi topik yang banyak diperbincang baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Simpulan-simpulan yang terekam dalam memori atas hasil interaksi antara satu manusia dengan manusia lainnya tidak jarang memberikan penilaian-penilaian tertentu dengan siapa dia berinteraksi.
Terlebih dengan interaksi tersebut berlangsung lama dan terus menerus dalam satu lingkungan tertentu, baik lingkungan keluarga, lingkungan kerja, lingkungan profesi, lingkungan hobbi dan berbagai lingkungan lainnya.
Simpulan-simpulan atas interaksi tersebut secara garis besar terpetakan dalam beberapa kutup-kutup diametral yang mendeskripsikan kualitas karakter seperti karakter baik dan buruk, karakter kuat dan lemah, karakter idealis dan pragmatis-oportunis.
Bentuk-bentuk simpulan sebagai apresiasi yang diekspresikan seseorang terhadap perangai orang lain terkadang diartikulasi dalam berbagai istilah yang lebih praktis seperti jujur, profesional, bertanggungjawab, konsisten, disiplin, peduli, komitmen, moderat, mandiri dan lain sebagainya.
Demikian pula dengan kebalikan dari istilah-istilah tersebut yang secara tidak langsung kesemuanya mengarah pada apresiasi atas karakter yang dimiliki seseorang.
Atas dasar itu, karakter cenderung diarahkan pada pemaknaan identitas personalitas seseorang atas tabiat dan perangai yang diperankan dalam pergaulan sehari-hari.
Karakter sebagaimana diartikan oleh Pusat Bahasa Depdiknas adalah “bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak”[6].
Arti leksikal tersebut semakna dengan pemahaman sehari-hari yang mengacu pada kualitas tindakan sebagai refleksi atas sifat dasar, tabiat, perangai dan watak yang dimiliki seseorang.
Seperti Oxford Advanced Learner’s Dictionary mengartikan character is all the qualities and features that make a person, groups of people, and place different from other[7].
Beberapa dimensi yang menjadi penekanan atas pengertian karakter yang dirumuskan oleh Oxford Dictionary di antaranya soal kualitas yang bersifat khas atau istimewa yang menyebabkan seseorang, kelompok penduduk, serta tempat yang menjadikannya berbeda dari yang lainnya. Kualitas yang bersifat istimewa atau khas tidak saja menjadi identitas personal tetapi juga identitas kelompok masyarakat tertentu jika suatu karakter menjadi kesadaran bersama (common sense) dan menjadi dasar bertindak dari setiap anggotanya.
Menyandingkan antara kualitas khusus sebagai salah satu unsur formula pengertian karakter menurut Oxford Dictionary dengan pengertian pusat bahasa Depdiknas dengan ragam istilah seperti bawaan, hati, jiwa, budi pekerti dan seterusnya mengisyaratkan bahwa karakter sesungguhnya merupakan refleksi dan artikulasi atas hakikat kemanusian yang teraktualisasi melalui tindakan saat berinteraksi dengan lingkugan sekitar.
Oleh sebab itu, karakter lebih pada fashion atas sifat dasar manusia yang berada pada hubungan timbal balik dua unsur yang saling mempengaruhi antara hal-hal yang berdimensi rohania-uhrawi dan hal-hal yang berdimensi jasmania-duniawi.
Hakikat penciptaan manusia dalam dimensi rohania senantiasa pada kebenaran (hanif) yang dapat dimengerti melalui standar kerja nalar dalam memahami mekanisme hukum alam (sunnatullah).
Meskipun eksistensinya hanya dapat dimengerti melalui mekanisme kerja hukum alam tetapi hakikat terpisah dan menjadi dasar validitas semua peristiwa yang terjadi dalam hubungan manusia dan lingkungannya. Berbeda halnya dengan dimensi jasmania yang secara alamiah cenderung mendorong manusia berbuat dan bertindak menurut insting keduniawian.
Sifat dan tabiatnya cenderung menabrak rambu-rambu norma dan kaidah demi memenuhi tuntutan nafsu. Prilaku bohong, palsu, munafik, licik, manipulatif dan rekayasa merupakan bentuk-bentuk tindakan yang menggiring karakter manusia dalam derajat yang sangat rendah. Bentuk-bentuk prilaku demikian, sesungguhnya sangat disadari oleh manusia sebagai karakter buruk.
Sebab letupan batin dan nalar senantiasa mengingatkan akan kekeliruan itu. Tetapi hal itu terabaikan oleh dorongan keinginan nafsu yang tidak terkendali untuk mendapatkan fasilitas-fasilitas duniawi.
Memaknai karakter sebagai sifat dasar, asli atau asal muasal tabiat atas hakikat penciptaan manusia sebagai mahluk paling mulia sesungguhnya terjawab dengan sifat dasar manusia yang senantiasa pada kebenaran melalui letupan batin dan nalar.
Oleh Sebab itu kualitas karakter yang merefleksikan derajat kemulian manusia, ketika tindakan dan perbuatan berbanding lurus dengan letupan batin dan nalar sebagai kontrol manusia dalam berprilaku dengan lingkungan sekitar.
Hakikat personalitas sebagai salah satu unsur pengertian karakter dalam dua makna leksikal sebagaimana tersebut di atas sesungguhnya melekat kuat dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari letupan batin dan nalar manusia.
Sebaliknya ketika manusia bertindak di luar dari letupan batin dan kerangka nalar yang dimiliki maka sesungguhnya manusia tengah berada di luar pribadinya dan lepas dari hakekatnya sebagai manusia yang merdeka.
Letupan batin dan nalar yang mendefinisikan soal salah dan benar maupun baik dan buruk adalah netral dan objektif. Ketika hal tersebut mampu ditegakkan dalam tindakan dan perbuatan manusia serta membebaskan diri dari hubungan emosional-pragmatis secara konsisten dalam mengekspresikan sikap dan prilakunya, maka tabiat demikian dapat disebut manusia berkarakter kuat (memiliki pendirian dan berkepribadian)[8].
Memahami dimensi karakter yang berbasis pada hakikat kemanusian sebagai mahluk mulia atas nalar dan letupan batin (nurani) yang senantiasa menjadi kontrol dalam bertindak, maka pembentukan karakter sesungguhnya hanya mengantar manusia menemukan hakekat kediriannya.
Stand point hakekat kedirian sebagaimana telah banyak dibahas oleh para pemikir terdahulu seperti Plato, Aristotles, Rene Descartes, Immanuel Kant, John Locke, Hegel, dan John Stuart Mill berada pada eksistensi manusia sebagai mahluk berpikir pada satu sisi dan mahluk etik pada sisi lainnya.
Melalui ragam istilah yang digunakan seperti Plato dan Aristoles dengan idea, Rene Descartes dengan Cogito Ergo Sum[9], Kant dengan Pure Reason[10], serta Hegel dengan Pure Though[11], di mana seluruh gagasan tersebut mendasarkan kedirian (personaliti) akan eksistensi manusia pada kehendak bebas yang berdiri di atas nalar murni. Kehendak bebas bukan berarti liar (wild) tetapi bebas memuat makna kemampuan pikiran manusia mentukan pilihan terbaik di antara beragam referensi tanpa terhalangi atau terintervensi oleh kekuatan-kekuatan yang datang dari luar dirinya.
Kemampuan menentukan preferensi secara bebas dan mandiri merefleksikan pula sikap kedirian untuk menerima seluruh konsekwensi sebagai efek atas sikap dan keputusan yang dipilihnya. Meskipun nalar sebagai dasar menentukan kehendak bebas, namun cara kerja nalar manusia senantiasa berdampingan dengan letupan batin (nurani) atau self consciousness (kesadaran diri) terutama ketika manusia berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Bahkan Socrates menempatkan pengetahuan nalar sebagai landasan kebajikan moral[12]. Socrates menyatakan bahwa kesalahan dan kejahatan manusia akibat ketidaktahuan (kebodohan)[13].
Stand point self consciousness merefleksi kekuatan moral yang teraktualisasi dalam bentuk etika. Etika atau ethos adalah semangat atau spirit yang terkonstruksi oleh banyak faktor baik karena kesadaran internal, lingkungan keluarga, pengalaman hidup, agama, pendidikan, adat istiadat, serta tata keramah sopan santun yang teraktualisasi dalam bentuk sikap (attitude), tindakan, prilaku (behavior) manusia dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Meskipun etika lahir dari buah kesadaran (awareness) saat berinteraksi dengan lingkungan sekitar tetapi konstruksi dan validitasnya tidak terlepas dari proses kerja nalar dalam mengetahui, mengkonsepsi dan merangkai berbagai peristiwa yang dihadapi manusia.
Pada akhirnya karakter adalah identitas personalitas yang terbentuk dari mekanisme kerja nalar dan letupan batin yang teraktualisasi dalam bentuk sikap (attitude), tidakan dan prilaku (behavior) atau lazim disebut dengan etika saat manusia berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Sedangkan pembentukan karakter adalah upaya sadar dengan berbagai metode dilakukan manusia untuk menemukan hakekat kedirian (eksistensi diri) dalam menentukan sikap dan peran yang seharusnya dilakukan dalam pergaulan dengan lingkungan sekitar.
Upaya menemukan hakekat kedirian sekaligus menjadi etos peradaban dapat dilakukan ikhtiar menjawab tiga pertanyaan dasar soal eksistensi di antaranya: pertama, dari mana kita berasal (ontologi); kedua, bagaimana seharusnya kita hidup (epistemologi); dan ketiga, untuk apa kita hidup (axiologi).
Pertanyaan pertama memuat dimensi spiritual-religious soal hakekat penciptaan manusia. Pengetahuan dan pemahaman atas hakekat penciptaan manusia menjadi landasan moralitas sekaligus penuntun (guidance) dalam mengelolah hidup dan kehidupan di jagad bumi.
Rangkaian pertanyaan bagaimana seharusnya kita hidup menuntun manusia untuk mendalami dan menguasai berbagai ilmu dan pengetahuan.
Melalui penguasaan ilmu dan pengetahuan, semakin memantapkan manusia dalam mengenal diri dan sistematika kerja hukum alam (sunnatullah) untuk mengadaptasikan diri dalam menjaga keseimbangan dan kelangsungan kehidupan manusia di muka bumi.
Penguasaan ilmu pengetahuan dengan sendirinya memperkokoh kedirian manusia, tidak saja dalam struktur berpikir dan bertindak tetapi termasuk kedirian dalam sisi ekonomi sebagai implikasi atas dedikasi keilmuan dan pengetahuan yang dimiliki.
Kesemua aktifitas keilmuan dan pengetahua bermuara pada kemuliaan harkat dan martabat manusia. Untuk apa kita hidup sebagaimana dalam pertanyaan ketiga? Memuat aspek tentang nilai eksistensi manusia bagi lingkungan sekitarnya.
Penguasaan ilmu dan pengetahuan menentukan eksistensi manusia yang terwujud dalam peran dan fungsi di tengah kehidupan umat manusia lainnya. Terutama nilai kemanfaatan yang mampu disumbangkan bagi kemaslahatan, kemuliaan dan kelangsungan peradaban umat manusia di muka bumi. Atas dasar itu pembentukan karakter iman, ilmu dan amal.
Dekonstruksi Makna Jawara
Jawara merupakan istilah yang tidak asing lagi di telinga kita. Eksistensinya memiliki akar sejarah yang telah bersedimentasi dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat Banten.
Kontekstualisasi “jawara” dalam dinamika sejarah kehidupan masyarakat Banten menimbuklan beragam apresiasi, pengertian dan pemahaman atas istilah itu. Menelusuri asal-usul istilah “jawara” diperkirakan muncul sekitar abad ke XIX[14].
Meskipun demikian belum ditemukan gambaran sejarah secara pasti kapan istilah jawara muncul dan mulai digunakan sebagai satu kata yang merepresentasi karakter kelompok masyarakat tertentu di Banten.
Menurut Gusman Jali Natawidjadja, asal-usul istilah jawara masih sebatas “stamboom” dalam sejarah sosial-budaya yang sulit dipertanggungjawabkan secara akademis[15].
Meskipun demikian istilah jawara sampai saat ini senantiasa diassosiasikan dan merujuk kepada entitas masyarakat Banten. Istilah jawarah dalam beragam tafsir didasarkan pada fungsi yang diperankan dalam sejarah sosial dan kebudayaan masyarakat Banten dengan beberapa kategori antara lain:
Pertama, jawara digunakan untuk menyebut sekelompok orang di masa Kerajaan Sunda yang bertugas sebagai penghubung antara Raja dengan rakyat.
Keahliannya dalam ilmu kanuragan dan bermain pencak silat menyebabkan kepadanya juga diberi tugas melayani dan melindungi raja dan rakyat. Jawara kemudian diidentikkan dengan orang-orang atau sekelompok orang yang memiliki keahlian dalam ilmu kanuragan dan pencak silat;
Kedua, tafsir yang hampir sama atas istilah jawara juga ditemukan dalam masa Kesultanan Maulana Hasanudin yakni orang-orang pemberani yang memiliki keunggulan lahir batin yang secara khusus dibina untuk menghadapi pasukan Padjadjaran[16];
Ketiga, perkembangan istilah jawara meluas kepada para Kiai dan ulama, terutama setelah Kerajaan Banten diambang kehancuran. Peran kerajaan yang berfungsi lebih banyak sebagai kaki tangan Kolonial Belanda dibanding pelindung rakyat, mendorong munculnya para Kiai dan Ulama menjadi pemimpin informal yang secara tidak langsung mengambil alih fungsi-fungsi kepemimpinan dalam melindungi dan mempertahan wilayah Banten dari kolonial Belanda.
Kedigdayaan ilmu agama dan ilmu hikmah yang dimiliki dalam memimpin berbagai peperangan melawan penjajah Belanda menyebabkan mereka dijuluki dengan ulama jawara[17].
Para ulama tanpa pamri dan penuh keikhlasan menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar terus memimpin dan mengobarkan perlawanan mengusir penjajah dari tanah Banten;
Keempat, identifikasi jawara mengalami stigma negatif, disaat munculnya perampokan dan berbagai tindakan onar lainnya yang mendompleng di tengah usaha para ulama jawara berjuang mengusir penjajah. Akibatnya Kolonial Belanda menjadikan peluang propaganda dengan menciptakan citra negatif kepada siapa saja yang melakukan penentangan termasuk ulama jawara dengan stigma sebagai bandit, pembuat keonaran agar tidak mendapat simpati rakyat; kelima, identifikasi dan stimatisasi jawara sebagai bandit dan pembuat keonaran berlanjut ketika F.G. Putnam Craemer menyebut kelompok orok lanjang dari Menes sebagai jawara yang sering membuat keonaran, kekacauan, tukang pukul dan tindakan premanisme[18].
Rangkaian cerita sejarah tentang jawara hingga saat ini, masih berada dalam sintesa makna sebagaimana berkembang sebelumnya. Substansinya berada pada orang atau kelompok orang yang memiliki keunggulan atau kelebihan atas ilmu kekebalan yang dimiliki serta kemampuan pencaksilat yang handal.
Pergerakan awalnya hadir sebagai kelompok yang sengaja dibentuk dan dididik khusus untuk kepentingan kemaslahatan warga masyarakat dan pemerintahan. Doktrin yang cukup melekat kuat dalam semangat jawara adalah orang yang selalu menang, tangguh dan tidak terkalahkan dalam segala situasi.
Oleh sebab itu orang-orang dalam kategori jawara adalah orang-orang terpilih dan memiliki daya saing tinggi. Tidak jauh berbeda dengan arti leksikalnya sebagaimana dalam kamus besar Bahasa Indonesia yang mendefinisikan jawara sebagai pendekar dan jagoan[19].
Sebagai sedimen sosial dan budaya dalam sejarah masyarakat Banten, tulisan ini berusaha melakukan dekonstruksi makna jawara dalam konteks kekinian sebagai landasan pembentukan identitas karakter mahasiswa Untirta.
Dekonstruksi dimaksudkan untuk menggali makna filosofis sebagai esensi yang menentukan makna suatu istilah yang mana dalam yang dimaksud hal ini adalah istilah jawara[20]. Kontekstualisasi dan konseptualisasi jawara mengisyaratkan makna akan tipikal manusia hebat, unggul, jago, menang, dan selalu juara.
Oleh sebab itu, jawara adalah sebuah spirit dan identitas karakter tangguh yang tidak kenal menyerah. Sikap tanggu dan tidak kenal menyerah merefleksikan sikap sabar dan konsisten untuk terus bertarung mempertahan nilai yang diyakini dan berjuang mewujudkan cita-cita.
Sebagai ikon identitas civitas akademika pada lembaga pendidikan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, dimensi jawara tertuju pada proses penyelenggaraan pendidikan yang mengantarkan mahasiswa menemukan hakekat kedirian (jati diri) dan personalitas bagi terbentuknya karakter yang kuat.
Memaknai jawara sebagai keunggulan, hebat dan selalu juara yang dimanifestasikan dalam kedirian sesungguhnya memuat esensi keaslian, asal muasal (originalitas) penciptaan manusia. Keunggulan dan kehebatan dapat dipetakan dalam dua dimensi:
Pertama, secara alamiah kelahiran anak manusia memang ditakdirkan oleh sang pencipta sebagai jawara yang dapat dibuktikan dengan keberhasilan mengeliminasi persaingan-persaingan mulai dari proses penciptaan dari sari pati makanan hingga lahir di muka bumi. Jawara atau juara dengan sendirinya telah menjadi takdir dan bagian yang tidak terpisahkan atas kelahiran anak manusia dari satu kompetisi alam kehidupan (rahim) ke alam berikutnya (dunia). Bentuk-bentuk pengakuan atas kejawaraan manusia oleh Sang Pencipta diposisikannya sebagai mahluk paling mulia dan pemimpin di muka bumi.
Kedua, manusia lahir diwarisi akal dan hati sebagai media batinia mengantarkan pesan-pesan kebenaran dari sang pencipta dan oleh sebab itu otentisitas manusia senantiasa pada kebenaraan.
Eksistensi nalar dan letupan batin sebagai penyambung lida kebenaran, baik secara langsung maupun tidak langsung memposisikan manusia sebagai wakil yang Maha Benar di muka bumi. Maha Benar yang dimaksud adalah Allah SWT tuhan semesta alam.
Oleh sebab itu, hakekat kejawaraan adalah orang yang mampu mendengar pesan-pesan kebenaran melalui perantaraan letupan batin dan nalar serta menegakkannya dalam tutur dan perbuatan. Jawara adalah orang yang mampu membumikan pesan-pesan kebenaran Allah yang maha kuasa dengan golok dan nyawa sekalipun. Sangat beralasan jika kemudian tasbih dan golok menjadi simbol ulama jawara.
Salah satu sarana menyampaikan pesan-pesan kebenaran adalah kejujuran. Kejujuran merefleksikan sikap konsistensi dan integrasi antara pesan kebenaran melalui nalar dan letupan batin dalam tutur dan perbuatan.
Pengingkaran terhadap pesan nalar dan letupan batin atas realita absolut yang sesungguhnya adalah penghianatan terhadap yang Maha Benar dan pembohongan terhadap alam jagad raya. Oleh sebab itu seorang layak disebut jawara adalah mereka yang menegakkan kejujuran dalam tutur dan perbuatan, mereka yang menjadikan jujur sebagai identitas nilai yang dipegang teguh serta menjadikan sebagai otentisitas kedirian.
Kejujuran adalah sebuah resonan keaslian, keluhuran pekerti dan moral tertinggi atas kualitas manusia dan merupakan pesaan kebenaran dari yang Maha Benar yang senantiasa berada dalam nalar dan letupan batin manusia.
Kejujuran adalah hakekat sistem kerja sunnatullah yang bersifat tetap dan pasti serta menjadi media komunikasi antara makrokosmos dan mikrokosmos sebagai keseluruhan. Pengingkaran terhadap pesan-pesan kebenaran berarti penentangan terhadap prinsip kerja sistem hukum alam (sunnatullah).
Bentuk-bentuk penentangan terhadap prinsip kerja sistem hukum alam (makrokosmos) ketika ucapan dan perbuatan manusia (mikrokosmos) tidak sesuai dengan pesan-pesan kebenaran yang disampaikan melalui media nalar dan batin.
Penyimpangan terhadap bahasa nalar dan letupan batin mengenai suatu peristiwa atau keadaan sesungguhnya akan mengganggu keseimbangan dan dapat menimbukan kegoncangan manusia dalam kehidupan dengan lingkungan sekitar (alam maupun manusia). Oleh karena itu semua agama dan peradaban mengajarkan tentang kejujuran sebagai fundasi peradaban.
Tegaknya kejujuran sebagai salah satu identitas karakter manusia beradab bukan perkara mudah. Menegakkan kejujuran sebagai satu identitas karakter peradaban satu komunitas terkondisi oleh tingkat ilmu dan pengetahuan masyarakat.
Ilmu dan pengetahuan mengantarkan manusia kepada satu titik kesadaran nalar dalam struktur berpikir sistematis dan utuh serta mempertajam letupan batin guna memahami realitas sebagai keseluruhan[21].
Ilmu dan pengetahuan tidak hanya dipahami secara parsial sekedar sarana produksi bagi pemenuhan kebutuhan materi keduniawian tetapi lebih dari pada itu memperkuat perspektif dan paradigma transendental bagi lahirnya banyak kearifan dan kebajikan dalam memahami jagad kehidupan sebagai satu kesatuan sistem. Tidak terkecuali Universitas Sultan Ageng Tirtayasa sebagai salah satu lembaga pendidikan tinggi yang berdiri di tanah jawara dan lahir atas semangat kejawaraan.
Tepatlah kiranya jika kemudian jawara menjadi ikon (simbol) identitas Untirta yang siap menjadi mencusuar peradaban bagi harkat dan martabat, masyarakat, bangsa dan negara. Sebagai mencusuar peradaban, Untirta mengembang missi pendidikan memberantas ketidaktahuan, merestorasi dan membangun kesadaran baru sebagaimana telah dilakukan oleh para pendahulu kita seperti Syekh Nawawi al Bantani.
Mengembalikan dan membangun kesadaran baru dimaksud adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, mengajarkan dan menjadi penyambung lida kebenaran melalui penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas.
Sebagai Universitas para jawara maka prinsip fundamental kejawaraan dalam penyelenggaraan pendidikan berdiri tegak di atas prinsip-prinsip moral kejujuran. Kejujuran tidak saja dipahami dan diimplementasi dalam doktrin kejujuran ilmiah bagi lahirnya karya-karya ilmu pengetahuan tetapi menjadi landasan moral tertinggi yang mendasari seluruh aktifitas kehidupan baik di dalam maupun di luar kampus.
Kejujuran beresonansi dengan kebebasan mimbar akademik sebagai ruang menyampaikan dan mendialogkan kebenaran. Sebuah ruang yang berada di titik nol kecuali kejujuran dan kebenaran itu sendiri. Ia terdefinisikan menurut standar objektifitas yang di dalamnya tidak terdapat pertentangan antara keyakinan nalar dan letupan batin berdasarkan objektifitas sunnatullah.
Di atas prinsip kejujuran akan melahirkan moral akademik yang dapat mendorong lahirnya banyak karya dan temuan baru. Temuan-temuan baru tidak saja mengantar manusia memahami tata kerja hukum alam tetapi lebih dari itu ia dapat mengikuti atau melakukan rekayasa yang memungkinkan manusia mengambil manfaat di balik mekanisme kerja sunnatullah.
Hal tersebut akan semakin mengukuhkan kedirian dan kemandirian manusia sebagai pemimpin dimuka bumi. Kedirian (personalitas) adalah bentuk kepercayaan dan keyakinan terhadap nilai tertentu yang berdimensi transendental dan menjadi etos manusia saat berinteraksi dengan lingkungan sekitar sedangkan kemandirian menyangkut kapasitas personal untuk menyelenggarakan dan memenuhi suatu urusan atas kualitas kemampuan atau kompotensi yang dimiliki.
Kapasitas dan kualitas kemandirian seseorang menyelenggarakan suatu urusan tergantung pada kompetensi penguasaan ilmu pengetahuan yang dimiliki. Penguasaan keilmuan tidak saja melahirkan profesionalisme (jujur dan bertanggung jawab dalam dunia kerja) tetapi juga menghilangkan keraguan, membentuk kepercayaan diri akan eksistensi untuk dapat bermanfaat dan berkarya serta bertahan di segala situasi.
Sebab penguasaan ilmu dan pengetahuan memungkinkan orang kreatif dan produktif hingga dapat meminimalisir mata rantai ketergantungan yang dapat memoderasi kedirian seseorang hingga terjebak dalam konspirasi pragmatisme dan oportunisme yang merendahkan nilai kemanusiaan kita.
Kemandirian adalah salah satu aspek utama tegaknya kedirian. Tanpa kemandirian, kedirian sangat potensial mengalami goncangan yang dapat merendahkan harkat dan martabat kemanusiaan kita.
Hakekat kemandirian adalah kebebasan yang inheren dengan kedirian. Kebebasan tidak berarti liar tanpa batas melainkan kemampuan menentukan preferensi di antara beragam pilihan menurut standar nalar dan letupan batin tanpa terganggu oleh kepentingan eksternal.
Oleh sebab itu, kemandirian tidak hanya dalam definisi produktifitas tetapi berproliferasi dengan mental dan spiritual akan kemampuan diri sendiri sebagai petarung tangguh, teguh dalam pendirian dan tidak mudah menyerah dalam mewujudkan mimpi menjadi kenyataan. Hal tersebut sebagai esensi kedua dari pertama mengenai makna jawara.
Sebagaimana dideskripsikan dalam alur cerita sejarah menunjukkan bahwa salah semangat yang mendasari kelahiran jawara ditujukan untuk melindungi pemerintahan dan rakyat Banten dari ancaman serangan kerajaan Sundah.
Bahkan cerita sebelumnya mengisahkan eksistensi jawara sebagai penghubung sekaligus pelindung raja dengan rakyat. Demikian pula kiprah yang diperankan dalam masa-masa perjuangan, membela pemerintahan dan rakyat Banten mengusir penjajah dari tanah air tercinta. Semangat dari cerita tersebut yang patut diteladani adalah sikap pengabdian, keikhlasan dan kerelaan berkorban harta, nyawa dan segala kenikmatan dunia demi kemulian harkat dan martabat bangsa.
Sikap kepedulian yang tinggi terhadap kepentingan orang banyak, tidak egois dan mementingkan diri sendiri merupakan karakter jawara yang sesungguhnya.
Sebuah tipikal dengan empati dan kecerdasan sosial yang tinggi. Kehebatan ilmu kekebalan, dan keterampilan pencaksilat yang dimiliki semua di dalami bukan untuk kesombongan dan keangkuhan tetapi semuanya dilakukan untuk didarmabaktikan bagi kemaslahatan orang banyak, demi tegaknya harkat dan martabat bangsa. Kerelaan berkorban demi kemaslahatan orang banyak menandakan jawara tidak saja memiliki kepedulian yang tinggi tetapi sikap moderat dan toleran terhadap sesama.
Sebab di dalam kerelaan berkorban inheren sikap kendali diri dan kerelaan berbagi untuk kepentingan dan kemajuan bersama.
Jawara Sebagai Identitas Karakter Mahasiswa Untirta
Merefleksi realitas perjalan masyarakat, bangsa dan negara hari ini, kita tengah berada di satu titik yang sangat menghawatirkan. Untuk menggambarkan situasi yang sedang terjadi diabstraksikan dengan berbagai istilah seperti krisis karakter, krisis identitas, krisis peradaban, krisis moral dan berbagai istilah lainnya. Kesemuanya menggambarkan kerontangan jiwa dan hilangnya spirit masyarakat moderen[22].
Dunia berada dalam prespektif partikular, separasi antara satu dan yang lainnya. Kearifan dan kebajikan sebagai etos moral universal manusia berinteraksi dengan lingkungan sekitar tergilas oleh kalkulasi nominal mesing-mesing rupiah yang membayangi setiap interaksi manusia. Perbatasan halal dan haram kabur dan tidak lagi menjadi parameter dalam setiap tutur dan tindakan manusia.
Manusia menjadi srigala bagi manusia lainnya. Sikut-menyikut, fitnah-menfitnah, siasat-mensiasati, gunting-menggunting dalam berebut lahan-lahan hidup demi kecongkakan prestise duniawi. Tidak sedikit pejabat publik merampas hak-hak publik seperti kolusi, korupsi dan nepotisme untuk memenuhi perut-perut nafsu yang tidak pernah kenyang. Tidak sedikit tenaga pendidik merampas masa depan generasi lewat berbagai pembodohan perdagangan nilai dan skripsi demi selembar kertas rupiah.
Lalu tidak sedikit pula dengan enteng bertutur seperti malaikat tanpa merasa berdosa di balik tindakannya yang bergerak di luar nalar manusia normal.
Fenomena tersebut merefleksikan jika manusia dan peradaban saat kini tercerabut dari otentisitas originalnya dan bergerak dalam kepalsuan formalisme tidak bermakna.
Kompleksnya persoalan mental tersebut menjadi tanggung jawab seluruh anak bangsa. Tidak terkecuali Untirta sebagai lembaga pendidikan tinggi yang berdiri di atas tanah dan semangat para jawara.
Berdasarkan latar belakang sejarah, sosial dan budaya, tepatlah kiranya jika kemudian Untirta mendeklir dan mengidentifikasikan diri sebagai univertas para jawara.
Idenfikasi Untirta sebagai universitas para jawara berarti seluruh sistem penyelenggaraan pendidikan dilaksanakan di atas prinsip-prinsip kejawaraan dengan harapan luaran alumni-alumni berkarakter jawara.
Karakteristik mahasiswa Untirta sebagaimana dalam dekonstruksi makna jawara adalah mahasiswa religious dengan kecerdasan spiritual yang tinggi yang berpegang teguh pada kebenaran. Menjadi penyambung lida kebenaran atas pesan kebenaran yang diterima melalui nalar dan letupan batin yang diintegrasikan dengan tutur dan perbuatan. Integrasi antara nalar dan letupan batin dengan tutur dan perbuatan dalam berinteraksi dengan lingkungan merefleksikan sikap jujur sebagai karakter dan bahasa universal dalam komunikasi mikrokosmos dan makrokosmos.
Sifat jujur berosonansi dengan integritas personal, konsisten, komitmen, berani, objektif, adil dan bertanggung jawab. Semuanya menunjukkan identitas pesonalitas (kedirian) yang kuat dan itulah kejujuran. Oleh sebab itu, salah satu identitas mahasiswa berkarakter jawara adalah berprilaku jujur.
Sebagaimana dikatakan oleh Plato, bahwa sebelum jiwa masuk ke dalam raga, ia berada dalam posisi bebas dengan pengindraan dan kedalaman pengetahuan yang tidak terhingga[23]. Setelah masuk ke dalam raga, posisi jiwa menjadi terbatas baik pengindraan maupun pengetahuan bahkan hilang sama sekali. Pengindraan dan pengenalan secara pelan-pelan dilakukan terhadap objek alamia yang bersifat partikular guna mengangkat kembali ide-ide ke realitas absolut, abadi dan bersifat tetap.
Bahwa hakekat kedirian kita sesungguhnya berilmu dan berpengetahuan tetapi kemudian terbatas ketika jiwa terintegrasi dalam raga. Oleh sebab itu menjadi tugas dan kewajiban setiap umat manusia memulihkan ilmu dan pengetahuannya dengan terus membaca (Iqra) baik dalam pengertian membaca buku maupun membaca tanda-tanda alam.
Ayat yang paling pertama turun adalah perintah membaca kepada Nabi Muhammad yang buta huruf ketika itu. Perintah membaca sesungguhnya untuk menemukan kembali kedirian kita sebagai mahluk berilmu dan berpengetahuan tinggi.
Penguasaan ilmu pengetahuan mengantarkan manusia pada kebenaran tidak saja pada kebenaran ilmiah (lahiria) tetapi sampai pada hakekat kebenaran sejati yang melingkupi seluruh sistem kerja sunnatullah. Kedalaman ilmu pengetahuan idealnya menjauhkan dari kekufuran dan mengantarkan manusia pada kemulian dan derajat yang tinggi sejahtera dunia dan selamat di akhirat. Atas dasar itu, mahasiswa berkarakter jawara adalah mahasiswa yang bersungguh-sungguh menuntut ilmu pengetahuan tanpa kenal lelah untuk sampai pada simpulan-simpulan kebenaran dari kebenaran ilmiah sampai ke kebenaran sejati.
Orang berilmu adalah orang yang mengetahui tentang kebenaran. Oleh sebab itu, tugas dan kewajiban orang berilmu adalah menjadi penyambung lida kebenaran kepada orang-orang yang belum tahu. Sebagai penyambung lida kebenaran tidak hanya menyampaikan tetapi mendidik dan mengajar baik dalam tutur (lisan) maupun dalam bentuk prilaku (keteladanan). Bahwa ilmu pengetahuan yang dimiliki seseorang tidak hanya untuk kepentingan diri sendiri tetapi harus dapat dibagikan dan dirasakan manfaatnya oleh orang lain.
Oleh sebab mahasiswa berkarakter jawara adalah mahasiswa yang memiliki empati dan kepedulian, yang tinggi terhadap melembaganya kebenaran dan kebaikan. Pekah, kritis dan terhadap lingkungan sekitar, suka tolong menolong terhadap kebaikan dalam mendorong perubahan masyarakat menuju bangsa beradab, mandiri dan bermartabat.
Seluruh akatifitas tersebut menunjukkan kualitas spiritual, kedalaman ilmu pengetahuan dan kesadaran bahwa keseimbangan dan eksistensi individu berada dalam lingkungan sosialnya sebagai satu kesatuan sistem jagad bumi yang tidak terpisahkan (wholeness).
Penutup
Dari seluruh rangkaian pembahasan dapat disimpulkan bahwa mahasiswa Untirta berkarakter jawara adalah mahasiswa yang concern terhadap iman, ilmu dan amal yang ditandai dengan cerdas spiritual, cerdas intelektual, dan cerdas emosional. Jika ditarik dalam dunia filsafat ilmu maka iman adalah landasan ontologi, ilmu pengetahuan adalah landasan epistemologi dan amalia adalah landasan axiologi.
Bila ditarik dalam artikulasi yang lebih praktis, maka masiswa berkarakter jawara adalah mahasiswa yang jujur, mandiri dan peduli atau mahasiswa yang senantiasa berzikir, berpikir dan beramal yang dapat disimbolkan dengan tasbih, pena dan golok.
Sebagai bagian paling akhir, izinkanlah saya berbagi satu pesan leluhur sekaligus bentuk komunikasi antar budaya sebagai berikut:
“Mautto bessi kelling lino riattuppui sarekkoammeng sala ditangnge maruttung’to”
Artinya, “sekalipun dunia ini baja murni yang dipakai bertumpu jika kesalahan dipertahankan juga akan runtuh/hancur”.
“Mautto lampa gemmemi riattuppui sarekkoammeng patuju ditangnge teppettu magganka lino”
Artinya, “sekalipun hanya sehelai rambut yang dipakai bertumpuh jika kebenaran dipertahankan tidak akan pernah putus hingga dunia kiamat”.
Demikian orasi ilmiah disampaikan, lebih dan kurangnya mohon dimaafkan
Billahi,taufiq Walhidayah
Wassalamu Alaikum War. Wab.
Untirta, 30 Agustus 2013
Daftar Pustaka Buku:
Ali Maksum dan Luluk Yunan Ruhendi, Pendidikan Universal di Era Modern dan Post Modern; Mencari Visi Baru atas Realitas Baru Pendidikan Kita, Ircisod, Yogyakarta, 2004.
Aristotle, Nicomachean Ethich, Translated and Edited by Chrips, Roger, Cambridge University Press, Cambridge, 2004.
Capra, Fritjof, Turning Point Science, Society and Rising Culture, Bantam Books, New York, 1983.
Friedmann, W, Legal Theory, Steven and Sons Limited, London, 1960.
Giddens, Anthony, The Consequences of Modernity, Stanford University Press, California, 1990, Diterjemahkan oleh Mohammad Yamin, Tumbal Modernitas; Ambruknya Pilar-pilar Keimanan, Ircisod, Yogyakarta, 2001.
Hegel, Georg Wilhelm Friedric, Philosophy of Right, Translated By S.W. Dyde, Botoche Books, Kicthener, Canada, 2001.
Hosein Djajadiningrat, Tinjauan Kritis Tentang Sejarah Banten, Jambatan, Jakarta, 1983.
Hutcheon, Pat Duffy, Building Character and Culture, Preager Publisher, London, 1999.
Kant, Immanuel, Critique of Pure Reason, Transalated and Edited by Paul Guyer, Cambridge University Press, Cambridge, 2000.
Khatib Mansur, Perjuangan Rakyat Banten Menuju Provinsi; Catatan Kesaksian Seorang Wartawan, Antara Pustaka Utama, Jakarta, 2001.
Muhammad Baqir Ash-Shadr, Falsafatuna, Mizan, Bandung, 1995.
Nina H. Lubis, Banten Dalam Pergumulan Sejarah; Sultan, Ulama, Jawara, Pustaka LP3S, Jakarta, 2004.
Rusmana et.al., Buku Pedoman Pendidikan Karakter, LP3M Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Banten, 2013.
Makalah, Sumber Elektronik dan Kamus
Hidayat Ma’ruf, Membangun Mahasiswa yang Berkarakter, Makalah, Disampaikan pada Studium General Pembukaan Kuliah semester ganjil Tahun Akademik 2012/2013 di Auditorium IAIN Antasari Banjarmasin, Rabu, 5 September 2012.
Gusman Jali Natawidjadja, Menapaki Jejak Sang Jawara, http://silatindonesia.com/2009/03/menapaki-jejak-sang-jawara-entitas-%E2%80%9Csubculture-of-violence%E2%80%9D-masyarakat-banten-dan-jawa-bagian-barat/ up date 24 Agustus 2013.
Anton M. Moeliono et.al., Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Edisi III, Jakarta, 2001.
Hornby A.S., Oxford Advanced Learner’s Dictionary, Sixth Edition, Oxford University Press, 2003.
Orasi Ilmiah, Disampaikan Pada Acara Pengukuhan Mahasiswa Baru Untirta Angkatan 2013, Untirta, 30 Agustus 2013.
ã Dosen Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Banten.
[1] Hosein Djajadiningrat, Tinjauan Kritis Tentang Sejarah Banten, Jambatan, Jakarta, 1983, hlm. 35.
[2] Khatib Mansur, Perjuangan Rakyat Banten Menuju Provinsi; Catatan Kesaksian Seorang Wartawan, Antara Pustaka Utama, Jakarta, 2001, hlm. 17-50.
[3] Rusmana et.al., Buku Pedoman Pendidikan Karakter, LP3M Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Banten, 2013, hlm. 34.
[4] Khatib Mansur, Perjuangan Rakyat…op.cit., hlm. 51-58.
[5] Conf. Capra, Fritjof, Turning Point Science, Society and Rising Culture, Bantam Books, New York, 1983, hlm. 15-16.
[6] Conf. Hidayat Ma’ruf, Membangun Mahasiswa yang Berkarakter, Makalah, Disampaikan pada Studium General Pembukaan Kuliah semester ganjil Tahun Akademik 2012/2013 di Auditorium IAIN Antasari Banjarmasin, Rabu, 5 September 2012, hlm. 4.
[7] Hornby A.S., Oxford Advanced Learner’s Dictionary, Sixth Edition, Oxford University Press, 2003, hlm. 208.
[8] Conf. Hutcheon, Pat Duffy, Building Character and Culture, Preager Publisher, London, 1999, hlm. 92.
[9] Conf. Friedmann, W, Legal Theory, Steven and Sons Limited, London, 1960, hlm. 29.
[10] Conf. Kant, Immanuel, Critique of Pure Reason, Transalated and Edited by Paul Guyer, Cambridge University Press, Cambridge, 2000, hlm. 17, 551-553.
[11] Conf. Hegel, Georg Wilhelm Friedric, Philosophy of Right, Translated By S.W. Dyde, Botoche Books, Kicthener, Canada, 2001, hlm. 52-53.
[12] Aristotle, Nicomachean Ethich, Translated and Edited by Chrips, Roger, Cambridge University Press, Cambridge, 2004, hlm. viii.
[13] Ibid.
[14] Nina H. Lubis, Banten Dalam Pergumulan Sejarah; Sultan, Ulama, Jawara, Pustaka LP3S, Jakarta, 2004, hlm. 127.
[15] Gusman Jali Natawidjadja, Menapaki Jejak Sang Jawara, http://silatindonesia.com/2009/03/menapaki-jejak-sang-jawara-entitas-%E2%80%9Csubculture-of-violence%E2%80%9D-masyarakat-banten-dan-jawa-bagian-barat/ up date 24 Agustus 2013.
[16] Ibid.
[17] Nina H. Lubis, Banten Dalam…op.cit., hlm. 129.
[18] Ibid.
[19] Anton M. Moeliono et.al., Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Edisi III, Jakarta, 2001, hlm. 463.
[20] Ali Maksum dan Luluk Yunan Ruhendi, Pendidikan Universal di Era Modern dan Post Modern; Mencari Visi Baru atas Realitas Baru Pendidikan Kita, Ircisod, Yogyakarta, 2004, hlm. 128.
[21] Conf. Capra, Fritjof, Turning Point…op.cit., hlm. 16.
[22] Conf. Giddens, Anthony, The Consequences of Modernity, Stanford University Press, California, 1990, Diterjemahkan oleh Mohammad Yamin, Tumbal Modernitas; Ambruknya Pilar-pilar Keimanan, Ircisod, Yogyakarta, 2001, hlm. 256-259.
[23] Muhammad Baqir Ash-Shadr, Falsafatuna, Mizan, Bandung, 1995, hlm. 27.
More