Makna Fitrah, Dr. H. Kosasih, M.Pd Ketua Yayasan Syekh Manshur Kalahang (Penasehat ISNU Kabupaten Pandeglang)

Sabtu 21 Maret 2026 (1 Syawal 1447 H), Dr. H. Kosasih, M.Pd Ketua Yayasan Syekh Manshur Kalahang sekaligus Penasehat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Pandeglang menerangkan bahwa makna Idul Fitri merupakan salah satu hari besar bagi umat muslim di seluruh dunia, yang bertepatan setiap tanggal satu Syawal atau hitungan bulan Arab. Momentum ini sangat ditunggu-tunggu oleh umat Islam di seluruh dunia dan lapisan masyarakat. Karena tepat pada hari ini, umat Islam merayakan satu bulannya menahan dari rasa lapar dan menahan nafsu.

Idul Fitri bagi umat Islam adalah hari kemenangan yang mana harus disambut gembira oleh seluruh umat Islam sebagaimana firman Allah dalam surah Yunus ayat 58:

قُلْ بِفَضْلِ ٱللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا۟ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ 

Artinya: Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”

Pada umumnya, pemaknaan Idul Fitri mempunyai arti yang begitu luas. Masyarakat Indonesia sering mengartikan Idul yang berasal dari kata ied yang berarti kembali, dan Fitri yang berarti fitri atau suci. Singkat kata, Fitri diartikan sebagai keadaan baik, suci tanpa dosa akan tetapi dapat berpotensi jahat, salah atau kotor. 

Dalam surah Al-Syams ayat 7-10:

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّىٰهَا. فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَىٰهَا. قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّىٰهَا. وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا

Artinya: Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.

Berbeda dari pemahaman di atas, kalimat Idul Fitri bisa ada dua makna:

Pertama,  Idul Fitrah (فطرة) yang artinya kembali ke fitrah manusia. Sebagaimana dalam surah Ar-Rum ayat 30 yang berbunyi:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Artinya: Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah, (Itulah) agama yang lurus tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

Dari ayat di atas, bahwasannya Fitrah merupakan ketentuan dari Allah yang dikodratkan atau diberikan kepada manusia. Fitrah manusia yang suci merupakan bentuk pemberian kepada seluruh umat manusia yang baru saja lahir dari rahim ibu. Karena setiap manusia tidak pernah luput dari dosa, Allah memberi kesempatan pada hari yang suci ini (Idul Fitri) sebagai momentum manusia untuk kembali ke fitrahnya, suci dengan bermaaf-maafan. 

Kedua, Idul Fitri (فطر) yang artinya berbuka atau tidak berpuasa lagi. Karena pada satu bulan sebelumnya seluruh umat muslim wajib untuk berpuasa dan menahan diri dari hawa nafsu. Hal ini selaras dengan salah satu hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi: 

عن عائشة رضي الله عنها قالت: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((الفطر يوم يُفطِر الناس، والأضحى يوم يُضحِّي الناس))؛ رواه الترمذي

Artinya: Dari Aisyah R.A berkata, Rasulullah SAW bersabda, Fitri merupakan hari di mana seluruh umat muslim berbuka (tidak berpuasa lagi) dan adha adalah hari di mana umat muslim berkurban.  

Dari dua perbedaan makna Fitrah di atas, makna Idul Fitri yang benar adalah poin kedua. Sesuai tradisi pembacaan literatur Arab, Idul Fitri dimaknai dengan عيد الفطر yang berarti kembali berbuka atau kembali makan seperti hari-hari biasa. Karena pada dasarnya Idul Fitri adalah hari kebebasan umat Islam, menahan makan dan minum dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari. 

“Penulis redaksi adalah seorang murid almaghfurlah, 21 Maret 2026”