Memberi Arti Perjuangan, Gusdur dan Para Pejuang, Catatan Dari Pengalaman Letnan Jenderal TNI (Purn.) Prabowo Subianto
Sumber: Buku Kepemimpinan Militer, Catatan Dari Pengalaman Letnan Jenderal TNI (Purn.) Prabowo Subianto, Halaman 462-467.
Kalau dulu penjajahan datang dengan fisik secara brutal, kondisi sekarang lebih sulit. Penjajahan sering tidak terlihat. Tidak bawa tentara, tidak bawa kapal perang. Penguasaan bentuknya lain sekarang.
Para penjajah menyogok pejabat-pejabat kita, mempengaruhi para intelektual kita, mengadu domba suku-suku kita dan agama-agama kita ala politik divide et impera.
Ini semua masih terus berlaku. Mereka yang tidak mau belajar sejarah akan dihukum oleh sejarah, dengan mengulangi kesalahan yang sama yang dilakukan oleh pendahulunya. Kita harus ingat akan hal tersebut.
Agar kita tidak mengulangi kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan di masa lalu, dan agar kita dapat bangkit menjadi bangsa yang menang, kita harus pelajari dan hidupi sikap-sikap pemenang para pendahulu kita. Terutama pendahulu kita yang telah memberi kemenangan besar bagi bangsa Indonesia.
Melalui buku ini, saya ingin berbagi dengan saudara, pelajaran-pelajaran yang saya dapatkan dari bacaan saya, dari pengalaman saya, dan dari pemimpin-pemimpin saya, komandan-komandan saya.
Sebelumnya saya sudah cerita mengenai Jenderal Jusuf, banyak Jenderal angkatan ’45 yang seperti beliau ini, yang bersih, yang jujur, yang diujung hidupnya tidak punya apa-apa. Mereka pemimpin luar biasa. Saya merasa banyak saya dipengaruhi mereka.
Mereka juga orang yang punya kreativitas, punya inisiatif, karena mereka merasa tentara rakyat.
Kisah Pak Jusuf mengingatkan saya dengan kisah Salahuddin.
Salahuddin Al-Ayyubi adalah salah satu tokoh idola saya. Kenapa? Karena pertama, dia seorang panglima perang yang tangguh.
Dia berhasil dalam berbagai pertempuran dan dia punya kepemimpinan dan kenegarawanan yang sangat luar biasa. Dan dia selalu bertindak sangat santun, sangat kesatria, bahkan terhadap lawan-lawannya.
Banyak kisah beliau, misalkan suatu saat lawan beliau yang tangguh adalah Richard the Lionheart, Raja Richard yang pertama dari Inggris, Richard siHati Singa. Ia adalah lawan tangguh. Suatu saat, Richard terkepung oleh pasukannya Salahuddin Al-Ayyubi dan Richard jatuh dari kuda.
Salahuddin lihat dari bukit, kemudian adik kandungnya dipanggil suruh bawa kuda, antar ke Richard, dan pasukan yang mengepung disuruh mundur. Jadi kudanya Salahuddin dikasih ke lawannya, dan pasukannya disuruh mundur. Richard the Lionheart disuruh pergi untuk melanjutkan.
Contoh-contoh leadership semacam ini sangat dikagumi di mana-mana, termasuk di Barat. Dan kita ingat, saat beliau menjadi pemimpin kekaisaran Islam pada saat itu, dari Tunisia, dari Libya perbatasan Mesir, Suriah, Irak, sampai perbatasan Persia, Jazirah, semua di bawah kekuasaan beliau.
Nah yang paling mengharukan saat beliau meninggal, mereka bongkar istana beliau ternyata tidak ada harta karun, tidak ada kekayaan beliau. Karenanya, untuk melaksanakan pemakamannya sangat sulit.
Akhirnya, dipanggillah panglima-panglima dari daerah-daerah untuk menyumbang agar salah satu pahlawan Islam yang paling terkenal itu bisa dimakamkan dengan baik.
Jadi saya sudah cerita tentang pelajaran yang saya ambil dari senior-senior saya di TNI, dari tokoh-tokoh besar seperti Salahuddin, sekarang saya juga mau cerita tentang pelajaran dari salah seorang life mentor saya, Gus Dur.
Alhamdulillah, saya berkesempatan untuk kenal baik dengan Gus Dur dari sejak saya Mayor.
Sebetulnya, ibunya Gus Dur dengan eyang saya juga tetangga sangat dekat, usianya hampir sama, di Jalan Taman Matraman10.
Saya kira kalau sudah suatu usia, dan bertetangga, biasalah budaya suka ngerumpi bersama.
Saya tidak akan lupa, saya terharu waktu neneksaya meninggal, ibunya Gus Dur yang memandikan nenek saya. Demikian hubungannya dekat.
Jadi antara keluarga Wahid Hasyim, Gus Dur, dengan keluarga saya baik, tetapi terutama secara pribadi juga saya kenal baik sama beliau.
Seringkali kita tidak cocok, kita ada perbedaan pandangan, tetapi ya diujungnya saya sadar bahwa Gus Dur orang yang sangat visioner. Islamnya Islam yang sangat moderat, Islam yang inklusif, Islam yang bisa berdialog dengan semua agama lain.
Pelajaran paling penting yang saya ambil dari Gus Dur adalah sifat beliau yang selalu moderat. Dengan siapa pun dia tidak mau bermusuhan, dan dia selalu mengayomi. Islam kita harus lslam yang damai.
Dia baik sama orang Nasrani, Kristiani, bahkan sama orang Yahudi pun dia berani buka hubungan. Yang penting kita berhubungan. Yang penting kita dialog. Belum tentu kita setuju dengan pendapatnya.
Jadi sifat untuk menghormati semua orang, sifat untuk mencari titik-titik temu,ini pengaruh terbesar beliau kepada saya. Semoga hal-hal ini dapat saya bagikan kepada saudara melalui buku ini.
Melalui buku ini, saya juga ingin mengajak saudara sebagai bagian dari bangsa Indonesia untuk bertanya kepada diri kita sendiri: Apakah jasad para pemuda, para pejuang, para rakyat Indonesia di seluruh Nusantara hanya akan menjadi tulang tidak berarti, atau menjadi inspirasi bagi gerakan kita ke depan?
Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, saya tidak bisa hidup tenang, mengetahui banyak anggota bangsa Indonesia saat ini tidak tahu perjuangan I Gusti Ngurah Rai, Ignatius Slamet Riyadi, Wolter Mongisidi, Bung Tomo, Pak Dirman, Pangeran Diponegoro. Saya tidak bisa tenang.
Saya juga sering diceritakan tentang paman-paman saya yang gugur. Jadi dirumah kakek saya, rumah Pak Margono di Jalan Taman Matraman No.10, sekarang namanya Taman Amir Hamzah, di Jakarta, ada ruangan Subianto dan Sujono.
Dua putranya waktu perjuangan setelah kemerdekaan, Subianto dan Sujono masuk tentara. Yang satu, langsung perwira. Diadari Fakultas Kedokteran.
Mungkin karena dari kedokteran, dia langsung jadi perwira. Yang satu masuk Akademi Militer Tangerang.
Nah, Januari ’46 terjadilah Pertempuran Lengkong di mana Daan Mogot sebagai komandan dan taruna-taruna akademi militer pergi berusaha merebut pangkalan Jepang. Terjadi bentrokan senjata. Mati semua, gugur semua.
Termasuk Subianto, walaupun sudah perwira dia mau gabung disitu. Jadi kakek saya hilang dua putranya di hari yang sama.
Peristiwa ini tidak bisa ia lupakan. Jadi kamar dua paman saya itu, di Taman Matraman waktu itu, dipertahankan.
Ransel mereka, helm mereka, sepatu mereka. Jadi kakek saya, setiap kali saya datang hari Minggu ke sana,dia sudah siapkan tendanya Subianto dipasang lagi. Jadi saya disuruh main di tenda-tendaan. Jadi dibawa ke kamarnya, dan ditunjukkan, “ini ranselnya, ini sepatunya, ini helmnya, itu tempat tidurnya.”
Mari kita sekarang pelajari, dalami, jalani, sikap-sikap para pejuang kita. Mari kita beri arti nilai kepada perjuangan mereka.
“Penulis redaksi adalah seorang murid almaghfurlah, 30 Maret 2026”