TARIAN PRABOWO DI TENGAH BADAI EKONOMI GLOBAL oleh Wardi Taufik
TARIAN PRABOWO DI TENGAH BADAI EKONOMI GLOBAL
Wardi Taufik
Dikutip dari link investor.id
Dunia sedang bergerak ke arah yang makin sulit ditebak. Meskipun ketegangan di Timur Tengah sempat mereda, bara konflik geopolitik global jauh dari kata padam. Perang Rusia-Ukraina belum menemukan titik akhir, rivalitas AS-China semakin meruncing, dan jalur perdagangan global terus bermutasi. Di panggung moneter, pasar keuangan global bisa langsung bergejolak hanya karena satu pernyataan pejabat bank sentral terkait suku bunga.
Di tengah turbulensi makro ini, Indonesia menghadapi dilema klasik negara berkembang: bagaimana memacu pertumbuhan ekonomi yang inklusif tanpa harus mengorbankan kedaulatan ekonomi nasional. Sebagai salah satu episentrum pasar berpotensi di Asia Tenggara yang terhubung erat dengan rantai pasok global, Indonesia mustahil memilih opsi isolasionisme atau menutup diri. Namun, di sisi lain, terlalu bergantung pada modal, teknologi, dan permintaan eksternal jelas mengundang risiko kerentanan yang fatal.
Di sinilah menariknya membaca arah kebijakan dan manuver Presiden Prabowo Subianto. Ia tampak secara sadar berusaha menjaga keseimbangan di tengah pergeseran besar geopolitik dan geoekonomi dunia. Sebuah tarian kebijakan yang tidak sederhana, sebab setiap ketukan langkah diplomasi dan keputusan domestik membawa konsekuensi ekonomi serta geopolitik yang riil dan berjangka panjang.
Membaca Arah Kompas Multipolar
Selama beberapa dekade pasca-Perang Dingin, arsitektur ekonomi dunia relatif seragam dan terpusat. Dolar Amerika Serikat bertindak sebagai urat nadi utama sistem keuangan dan perdagangan internasional, sementara Washington bersama sekutu Baratnya menjadi jangkar utama stabilitas ekonomi global.
Kini, lanskap unipolar tersebut mulai terkikis secara struktural.
Munculnya aliansi ekonomi alternatif seperti BRICS yang terus melakukan ekspansi anggota, fragmentasi rantai pasok global berbasis kedekatan politik (friend-shoring), serta meluasnya gerakan dedolarisasi global menunjukkan bahwa dunia sedang bergerak cepat menuju tatanan multipolar. Tidak ada lagi satu pusat gravitasi tunggal yang sepenuhnya dominan dan mampu mendikte hukum pasar global.
Bagi Indonesia, realitas baru ini adalah pisau bermata dua. Peluangnya, pilihan kerja sama ekonomi, diversifikasi pasar ekspor, dan sumber investasi asing kini jauh lebih beragam dan tidak lagi tersentralisasi pada blok Barat semata.
Namun tantangannya, bagaimana Indonesia memposisikan diri agar tidak terjebak dalam benturan kepentingan atau proksi rivalitas antar-kekuatan besar yang sedang berebut pengaruh.
Keputusan strategis Indonesia bergabung dengan BRICS harus dibaca dalam konteks taktis ini. Langkah ini membuka pintu perluasan akses pasar ke negara-negara berkembang dengan populasi masif dan pertumbuhan ekonomi tinggi.
Namun, di saat yang sama, Jakarta tetap harus memastikan bahwa hubungan dagang, investasi, dan kemitraan strategis tradisional dengan Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Jepang tidak mengalami degradasi. Sejauh ini, Prabowo memilih jalan tengah yang pragmatis sekaligus taktis: memperluas aliansi ekonomi baru tanpa mengorbankan atau meninggalkan kawan lama. Ini adalah manifesto modern dari prinsip politik luar negeri bebas-aktif yang sedang diuji langsung di atas lapangan diplomasi yang sangat terjal.
Menguji Fondasi Rumah Sendiri
Namun, secemerlang apa pun diplomasi tingkat tinggi di panggung internasional, ia tidak akan memiliki daya tawar yang berarti jika fondasi ekonomi domestik keropos. Oleh karena itu, jajaran kebijakan ekonomi domestik yang digulirkan belakangan ini memiliki benang merah yang sama: mempertebal benteng pertahanan dan memperkuat daya tahan ekonomi dari dalam negeri sendiri.
Instrumen paling ambisius yang muncul dalam arsitektur ekonomi baru ini adalah pembentukan Badan Pengelola Investasi Danantara. Diarsiteki untuk mengonsolidasikan aset-aset strategis negara dan BUMN papan atas, Danantara mengemban misi besar untuk bertransformasi menjadi Sovereign Wealth Fund (SWF) raksasa. Namun, ujian efektivitas tata kelola (governance) membayangi langkah besar ini.
Danantara harus membuktikan diri mampu mendobrak mentalitas birokratis BUMN yang kerap tidak efisien, bersih dari intervensi politik, dan mampu menerapkan standar transparansi internasional.
Jika gagal mengeksekusi fungsi ini, Danantara justru berisiko menjadi super-holding yang menambah lapisan birokrasi baru, memicu tumpang tindih regulasi, atau bahkan menjadi beban fiskal baru bagi APBN. Pada saat yang sama, kebijakan hilirisasi komoditas yang menjadi warisan pemerintahan sebelumnya terus dipacu masuk ke gelombang kedua. Komitmen ini tidak lagi terbatas pada nikel, melainkan merambah ke tembaga, bauksit, hingga sektor agroindustri seperti kelapa sawit dan rumput laut.
Tujuannya tegas: memutus kutukan sebagai eksportir bahan mentah dan merebut nilai tambah (value-added) ekonomi di dalam negeri. Selaras dengan itu, perluasan penggunaan mata uang lokal (Local Currency Transaction/LCT) dalam transaksi dagang bilateral dengan negara-negara mitra regional di Asia didorong untuk menciptakan sabuk pengaman dari guncangan volatilitas Dolar AS. Akan tetapi, strategi penguatan fondasi ini menghadapi tantangan struktural yang mendesak pada level riil.
Hilirisasi gelombang pertama yang padat modal terbukti sukses mendongkrak angka ekspor makro, namun belum optimal dalam menciptakan lapangan kerja padat karya dalam jumlah masif. Akibatnya, terjadi diskoneksi antara pertumbuhan ekonomi di atas kertas dengan kondisi di akar rumput.
Investor Domestik: Perisai Baru yang Labil
Di luar dinamika kebijakan pemerintah, ada satu transformasi struktural di sektor finansial yang sering kali luput dari analisis mendalam: terjadinya ledakan jumlah investor domestik secara masif di pasar modal, pasar obligasi, hingga instrumen keuangan digital dalam beberapa tahun terakhir.
Secara teoritis, fenomena ini adalah pencapaian struktural yang luar biasa bagi ketahanan ekonomi nasional. Selama berdekate-dekade, pasar keuangan Indonesia, khususnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan pasar Surat Berharga Negara (SBN), terkenal sangat ringkih karena didominasi oleh modal asing (foreign ownership).
Akibatnya, setiap kali terjadi guncangan geopolitik atau kenaikan suku bunga di Amerika Serikat, pasar keuangan domestik langsung didera aksi jual massal yang memicu kepanikan dan pelemahan nilai tukar Rupiah akibat fenomena pembalikan modal asing secara mendadak (capital outflow).
Kini, peta kekuatan tersebut telah bergeser. Dominasi investor ritel lokal, yang sebagian besar dimotori oleh generasi muda (Milenial dan Gen Z), telah tumbuh menjadi kekuatan penyeimbang yang signifikan. Ketika investor institusi asing menarik dana mereka keluar dari pasar domestik karena sentimen global, aliran likuiditas dari investor domestik kerap kali bertindak sebagai “perisai” atau bumper yang menahan kejatuhan indeks saham dan menjaga stabilitas imbal hasil (yield) obligasi negara agar tetap kompetitif.
Namun, di balik optimisme munculnya perisai baru ini, tersimpan kerentanan psikologis yang cukup mengkhawatirkan. Struktur investor domestik baru ini didominasi oleh investor ritel pemula yang memiliki profil literasi keuangan yang belum sepenuhnya matang.
Karakteristik pasar ritel modern sangat rentan terhadap herding behavior, sebuah fenomena psikologi pasar di mana individu mengambil keputusan investasi hanya karena mengikuti pergerakan massa atau narasi yang diamplifikasi oleh algoritma media sosial dan pemikiran para “influencer” saham, bukan berdasarkan analisis fundamental yang solid.
Kondisi ini diperparah oleh fakta bahwa sebagian besar modal domestik baru ini bersifat jangka pendek dan spekulatif, bukan modal institusional jangka panjang yang sabar (patient capital). Ketika badai informasi buruk atau rumor krisis global melanda ruang digital, kolektivitas investor ritel yang minim literasi ini bisa dengan sangat cepat berbalik arah dari optimisme ekstrem menjadi kepanikan massal (panic selling). Kekuatan yang awalnya dipuji sebagai perisai stabilitas, dalam hitungan jam bisa bermutasi menjadi motor volatilitas baru yang memperparah kejatuhan pasar dalam negeri.
Oleh karena itu, pemerintah bersama otoritas regulasi keuangan seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia menghadapi tantangan besar untuk melakukan pendalaman pasar (market deepening).
Menambah kuantitas investor ritel saja tidak lagi cukup; pekerjaan rumah berikutnya yang jauh lebih krusial adalah meningkatkan kualitas kedewasaan pasar melalui edukasi yang agresif serta mendorong pertumbuhan investor institusi domestik seperti dana pensiun, perusahaan asuransi lokal, dan reksa dana jangka panjang yang memiliki psikologi lebih stabil dalam menghadapi fluktuasi global.
Sebab pada akhirnya, keberhasilan atau kegagalan strategi besar ekonomi Indonesia tidak akan pernah diukur dari seberapa megahnya panggung forum internasional yang dihadiri oleh presiden, atau seberapa tebalnya tumpukan dokumen nota kesepahaman (MoU) investasi yang berhasil ditandatangani di luar negeri. Ujian sesungguhnya dari tarian geopolitik dan geoekonomi ini adalah apa yang terjadi dan dirasakan langsung di dapur-dapur rumah tangga di seluruh penjuru negeri.
Wardi Taufik
Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama
Ketua Asosiasi Praktisi Aset Digital Indonesia
email: [email protected]
“Pengutip redaksi adalah seorang murid almaghfurlah, 3 Juli 2026”